NAMA :DONI DWIYANTO
NO :15
KELAS : X_TPA
Contoh Menggunakan Bahasa Indonesia Secara baik dan benar
1. Contoh menggunakan Bahasa Indonesia secara baik dan benar
Berbahasa Indonesia dengan baik dan benar” dapat diartikan pemakaian ragam bahasa yang serasi dengan sasarannya dan di samping itu mengikuti kaidah bahasa yang betul. Ungkapan “bahasa Indonesia yang baik dan benar” mengacu ke ragam bahasa yang sekaligus memenuhi persyaratan kebaikan dan kebenaran. Bahasa yang diucapkan bahasa yang baku.
Berbahasa Indonesia dengan baik dan benar mempunyai beberapa konsekuensi logis terkait dengan pemakaiannya sesuai dengan situasi dan kondisi. Pada kondisi tertentu, yaitu pada situasi formal penggunaan bahasa Indonesia yang benar menjadi prioritas utama. Penggunaan bahasa seperti ini sering menggunakan bahasa baku. Kendala yang harus dihindari dalam pemakaian bahasa baku antara lain disebabkan oleh adanya gejala bahasa seperti interferensi, integrasi, campur kode, alih kode dan bahasa gaul yang tanpa disadari sering digunakan dalam komunikasi resmi. Hal ini mengakibatkan bahasa yang digunakan menjadi tidak baik.
Misalkan dalam pertanyaan sehari-hari dengan menggunakan bahasa yang baku Contoh :
a) Apakah kamu sudah belajar malam ini?
- Umumnya : udah belajar belom lu?
b) Apa yang kamu lakukan sekarang?
- Umumnya : lagi ngapain lu?
c) Sejak kapan anda tinggal di Tangerang?
- Umumnya : Dari kapan tinggal di Tangerang?
d) Berapakah jarak rumah anda ke sekolah ?
- Umumnya : Dari rumah ke sekolah jauh gak ?
e) Sudah berapa lama anda menunggu bus di sini ?
- Umumnya : udah lama nunggu bis nya?
Contoh lain Misalkan ketika dalam dialog antara seorang Guru dengan seorang siswa
• Pak guru : Rino apakah kamu sudah mengerjakan PR?
• Rino : Sudah saya kerjakan pak.
• Pak guru : Baiklah kalau begitu, segera dikumpulkan.
• Rino : Baik Pak,akan segera saya kumpulkan.
Contoh lain dalam tawar-menawar di pasar, misalnya, pemakaian ragam baku akan menimbulkan kegelian, keheranan, atau kecurigaan. Akan sangat ganjil bila dalam tawar -menawar dengan tukang sayur atau tukang becak kita memakai bahasa baku seperti ini.
(1) Berapakah Ibu mau menjual wortel ini ?
(2) Apakah abang Becak bersedia mengantar saya ke Stasiun Gambir dan berapa ongkosnya?
Contoh di atas adalah contoh bahasa Indonesia yang baku dan benar, tetapi tidak baik dan tidak efektif karena tidak cocok dengan situasi pemakaian kalimat-kalimat itu. Untuk situasi seperti di atas, kalimat (3) dan (4) berikut akan lebih tepat.
(3) Berapa nih bu, harga wotel nya ?
(4) Ke Statiun Gambir,berapa bang?
cahya.nurdin
Jumat, 30 Maret 2012
Kamis, 29 Maret 2012
YAYANG
NAMA :YAYANG DEDI WIYANTO
NO :30
KELAS :X.TP_D
Ragam etnik dan bahasa yang ada di Indonesia merupakan kekayaan yang tiada duanya. Lain daerah lain juga bahasanya. Bahasa daerah di negara ini sangat beragam, di antaranya bahasa Jawa, bahasa Sunda, bahasa Minang, bahasa Bali dan lain-lain. Penutur bahasa daerah lebih banyak. Bahasa daerah seakan melekat erat dalam setiap tuturan. Hal tersebut berpengaruh terhadap penutur, terutama siswa atau pelajar di daerah tertentu.
Para siswa terkadang enggan bertutur dengan bahasa Indonesia. Mereka lebih nyaman dan akrab dengan bahasa daerah, sehingga penguasaan bahasa Indonesianya kurang. Hal tersebut sangat berpengaruh terhadap pembelajaran. Siswa yang penguasaan bahasa Indonesianya rendah, mereka akan terhambat dalam penyerapan materi pelajaran.
Ada suatu cerita ketika seorang guru ditanya oleh muridnya, ” Pak sekarang kamu mengajar di kelasku!” kata seorang murid. Kemudian guru itu agak tercengang dengan perkataan muridnya tersebut. Guru itu lalu menegur muridnya. Mengapa guru itu menegur si murid? Tampaknya ada ucapan yang salah dari si murid. Murid itu menggunakan kata “kamu” dan “ku” untuk berbicara dengan gurunya. Murid tidak menyadari tuturannya yang salah. Karena ia tidak tahu penggunaan bahasa yang santun ketika bertutur dengan orang yang lebih tua. Guru itu menegur muridnya, “Coba ulangi sekali lagi perkataanmu! Seharusnya kamu berkata, Pak sekarang Bapak mengajar di kelas kami! Berbahasalah dengan baik dan santun!”
Peristiwa tersebut merupakan hal sepele. Namun, hal tersebut jika dibiarkan akan menjadi masalah serius. Si murid tidak akan pernah tahu penggunaan bahasa yang santun kalau guru tidak memberitahu. Oleh karena itu, pelajaran bahasa Indonesia di sekolah jangan hanya sebagai hafalan. Tetapi penguasaan bahasa Indonesia yang benar dan santun harus dipraktikkan, sehingga para siswa dapat menghayati sekaligus betutur dengan baik.
Demam bahasa asing juga melanda kalangan siswa. Mereka lebih senang mencampuradukkan bahasa asing dengan bahasa Indonesia. Berbicara dengan bahasa asing cenderung gaul dan terkesan lebih keren. Kosakata bahasa asing juga sering diselipkan di setiap tuturan. Padahal belum tentu mereka paham dan sesuai dengan konteks yang dibicarakan. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Indonesia wajib ditingkatkan. Terutama pemahaman kosakata, penggunaan ejaan dan ragam bahasa sastra.
NO :30
KELAS :X.TP_D
Ragam etnik dan bahasa yang ada di Indonesia merupakan kekayaan yang tiada duanya. Lain daerah lain juga bahasanya. Bahasa daerah di negara ini sangat beragam, di antaranya bahasa Jawa, bahasa Sunda, bahasa Minang, bahasa Bali dan lain-lain. Penutur bahasa daerah lebih banyak. Bahasa daerah seakan melekat erat dalam setiap tuturan. Hal tersebut berpengaruh terhadap penutur, terutama siswa atau pelajar di daerah tertentu.
Para siswa terkadang enggan bertutur dengan bahasa Indonesia. Mereka lebih nyaman dan akrab dengan bahasa daerah, sehingga penguasaan bahasa Indonesianya kurang. Hal tersebut sangat berpengaruh terhadap pembelajaran. Siswa yang penguasaan bahasa Indonesianya rendah, mereka akan terhambat dalam penyerapan materi pelajaran.
Ada suatu cerita ketika seorang guru ditanya oleh muridnya, ” Pak sekarang kamu mengajar di kelasku!” kata seorang murid. Kemudian guru itu agak tercengang dengan perkataan muridnya tersebut. Guru itu lalu menegur muridnya. Mengapa guru itu menegur si murid? Tampaknya ada ucapan yang salah dari si murid. Murid itu menggunakan kata “kamu” dan “ku” untuk berbicara dengan gurunya. Murid tidak menyadari tuturannya yang salah. Karena ia tidak tahu penggunaan bahasa yang santun ketika bertutur dengan orang yang lebih tua. Guru itu menegur muridnya, “Coba ulangi sekali lagi perkataanmu! Seharusnya kamu berkata, Pak sekarang Bapak mengajar di kelas kami! Berbahasalah dengan baik dan santun!”
Peristiwa tersebut merupakan hal sepele. Namun, hal tersebut jika dibiarkan akan menjadi masalah serius. Si murid tidak akan pernah tahu penggunaan bahasa yang santun kalau guru tidak memberitahu. Oleh karena itu, pelajaran bahasa Indonesia di sekolah jangan hanya sebagai hafalan. Tetapi penguasaan bahasa Indonesia yang benar dan santun harus dipraktikkan, sehingga para siswa dapat menghayati sekaligus betutur dengan baik.
Demam bahasa asing juga melanda kalangan siswa. Mereka lebih senang mencampuradukkan bahasa asing dengan bahasa Indonesia. Berbicara dengan bahasa asing cenderung gaul dan terkesan lebih keren. Kosakata bahasa asing juga sering diselipkan di setiap tuturan. Padahal belum tentu mereka paham dan sesuai dengan konteks yang dibicarakan. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Indonesia wajib ditingkatkan. Terutama pemahaman kosakata, penggunaan ejaan dan ragam bahasa sastra.
Langganan:
Komentar (Atom)